Sekali. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Bokep Live Duduk di tepi dipan. Aku masih mematung. Ia menyenggol kepala juniorku. Aku masih di atas angkot. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Aku masih mematung. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Tapi masih terhalang kain celana. “Ya sekarang Sayang..!” katanya.“Halo..?” katanya sedikit terengah.“Oh ya. Tetapi, aku harus berani. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.“Mbak Hawin.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah.




















