Hawin datang. Yes. Bokeb Ah sialan. Ia memulai pijitan. Sial. Ia cukup lama bermain-main di perut. Tangannya halus. Bodoh amat. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat.Bau tubuhnya tercium. Tunggu apa lagi. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya.Apalagi yang dapat tertinggal? Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Masih menutupi diri dengan tabloid. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Ia malah melengos. Begini saja daripada repot-repot. Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih.




















