Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekedar untuk dapat tempat duduk.“Makasih” ujarnya ringan.Aq sebetulnya ingin ada sesuatu yg bisa diomongkan lagi, sehingga tdk perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yg terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.“Saya juga tdk suka angin kencang-kencang. Bokeb Come on lets go! Nafasnya tersengal. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya.“Halo..?” katanya sedikit terengah. Paling tdk ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Iin..,” gumamku dalam hati.Perlu tdk ya kutegur? Tdk apalah hari ini tdk ketemu. Ia menyentuhnya. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Ya tdk apa-apa, hitung-hitung olahraga. Aq kegelian menikmati tangannya yg menari di atas kulit punggung.




















